Waskitanusa.com, BOYOLALI — Penyebab kasus keracunan yang dialami puluhan siswa dan tenaga kependidikan SMPN 6 Boyolali setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya terungkap. Hasil pemeriksaan laboratorium menemukan adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli atau E. coli pada menu yang disajikan.
Kasus tersebut terjadi setelah puluhan siswa, guru, dan petugas tata usaha SMPN 6 Boyolali mengalami gangguan pencernaan usai mengonsumsi menu MBG pada Kamis (20/8/2026). Gejala mulai dirasakan pada sore hari dan pemeriksaan dilakukan oleh tim kesehatan pada keesokan harinya.
Ketua Satgas MBG Boyolali M. Syawalludin mengatakan hasil pemeriksaan sampel menu oleh Laboratorium Kesehatan (Labkes) Semarang menunjukkan adanya kontaminasi bakteri E. coli.
“Dari hasil lab, terindikasi dari menu yang disajikan untuk sayur sop, khususnya di bahan ayam dan wortel, proses pembersihannya airnya terkontaminasi bakteri. Namanya e-coli,” kata dia kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).
Kontaminasi bakteri tersebut diduga menyebabkan para siswa mengalami gangguan pencernaan, mulai sakit perut hingga diare.
Hasil pemeriksaan laboratorium itu telah disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Koordinator Wilayah (Korwil) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Boyolali.
Menurut Syawalludin, terdapat dua kemungkinan sumber kontaminasi bakteri E. coli pada menu MBG tersebut, yakni dari air maupun proses penanganan makanan oleh petugas.
“Pertama bisa dari air, bisa juga aspek manusianya. Kalau air tentu dilakukan hal-hal seperti pemberian kaporit, tawas, maintenance, dan sebagainya. Kalau dari manusianya, tentu ya SOP pembersihan dari tenaga kerja, relawan harus memastikan SOP-nya bersih,” jelasnya.
SPPG Masih Disuspensi
Syawalludin mengatakan Satgas MBG Boyolali terus melakukan monitoring terhadap dapur SPPG Siswodipuran 2 yang menjadi penyalur menu MBG ke SMPN 6 Boyolali.
“SPPG-nya masih kami suspend, kami monitoring terus, prinsipnya hasil labnya kami sampaikan ke korwil. Setelah itu, korwil akan memantau terus SPPG-nya,” kata dia.
Senada, Kepala Dinas Kesehatan Boyolali FX Kristandyoko mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap menu MBG yang diduga menyebabkan keracunan telah keluar dan selanjutnya dikaji serta disampaikan kepada Satgas MBG Kabupaten Boyolali.
Ia mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan kontaminasi bakteri E. coli ditemukan pada menu nasi dan sayur. Menurut Kris, bakteri E. coli dapat berasal dari air yang digunakan dalam proses pengolahan makanan maupun kondisi sanitasi yang belum memenuhi standar.
“Bila dari air hasil tidak sesuai standar, bisa diberikan kaporit untuk desinfeksi air. Monev SPPG untuk perbaikan juga kami sampaikan ke Satgas MBG,” kata dia.
Sebelumnya, sebanyak 96 siswa SMPN 6 Boyolali dan empat tenaga kependidikan yang terdiri atas tiga guru dan satu petugas tata usaha mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan setelah mengonsumsi menu MBG.
“Datanya ada sekitar 96 yang merasa ada gejala itu dikumpulkan, terus kami anamnesa. Ada yang sudah merasa tidak ada keluhan atau merasa baik saja, sehingga dari 96 orang itu, ada 17 yang masih merasakan tidak nyaman di badan. Baik itu mual, melilit, diare, nah itu ada 17 orang. Itu diperiksa oleh tim kesehatan dari Puskesmas Boyolali I,” jelas dia kepada wartawan, Jumat lalu.
Dari jumlah tersebut, 17 orang masih mengalami keluhan dan telah diperiksa serta diberikan obat oleh tim kesehatan. Dinkes Boyolali juga berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk mendata siswa yang tidak masuk sekolah karena sakit.
Kris sebelumnya mengatakan dugaan keracunan berkaitan dengan menu MBG yang dibagikan pada Kamis (20/8/2026). Makanan dibagikan sekitar pukul 09.00 WIB dan sejumlah siswa mulai merasakan gejala sekitar pukul 16.00 WIB.
Gejala yang dialami antara lain mulas, mual, perut melilit, diare, hingga pusing. Menu MBG yang disajikan terdiri atas tahu pong, buah kelengkeng, nasi putih, kuah sup, serta sup manten berisi makaroni, jamur, wortel, dan irisan ayam.
“Bisa saja itu prosesnya dalam pencucian, pada saat penyajian, dan sebagainya. Kalau waktu saji, sebenarnya masih dalam range normal karena masih pukul 09.00 WIB. Kami akan kaji lagi apa sebabnya. Misal E. coli itu dari airnya, misal penyaji apakah tangannya bersih dan sebagainya,” jelas dia.

Leave a Reply