Banjir Bandang Nepal-China Tewaskan 1.280 Orang, Ribuan Masih Hilang

Banjir Bandang Nepal-China Tewaskan 1.280 Orang, Ribuan Masih Hilang
Warga menangis saat mengikuti upacara pemakaman simbolis untuk kerabat mereka yang hilang karena banjir bandang di Kuil Pashupatinath, Kathmandu, Nepal, Rabu (2/9/2026). ANTARA FOTO

Waskitanusa.com, ISTANBUL – Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dahsyat di Nepal dan China bertambah menjadi 1.280 orang hingga Kamis (3/9/2026). Sementara itu, sebanyak 5.624 orang masih hilang saat operasi pencarian dan penyelamatan memasuki pekan kedua.

Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal melaporkan sebanyak 1.259 orang meninggal dunia dan 5.083 lainnya masih hilang. Jumlah korban hilang tersebut termasuk 583 warga negara asing.

Lebih dari 21.400 personel keamanan telah dikerahkan untuk melakukan pencarian dan penyelamatan di berbagai wilayah terdampak.

Sejumlah keluarga korban hilang akibat banjir di Nepal mulai menggelar upacara pemakaman simbolis untuk kerabat mereka yang belum ditemukan.

Sementara itu, di China, pihak berwenang melaporkan 21 orang meninggal dunia dan 541 lainnya masih hilang. Jumlah tersebut termasuk 261 warga asing.

Di Rasuwa, salah satu daerah terdampak paling parah, sejumlah keluarga membuat patung pemakaman dari kaas-kush atau rumput suci dan melakukan ritual untuk membebaskan jiwa kerabat mereka yang hilang.

Menurut laporan Kathmandu Post, ritual tersebut dilakukan karena sebagian keluarga mulai kehilangan harapan untuk menemukan jenazah kerabat mereka yang hilang akibat banjir bandang.

Pada Rabu (2/9/2026), puluhan patung tersebut dikremasi dalam upacara pemakaman massal di Kuil Pashupati Aryaghat yang berada di tepi Sungai Bagmati, Kathmandu.

Operasi Pencarian Terkendala Infrastruktur

Di Chitwan, daerah lain yang terdampak parah, otoritas setempat membakar jasad-jasad yang belum dapat dikenali setelah terlebih dahulu mengumpulkan sampel DNA.

Langkah tersebut dilakukan karena besarnya jumlah korban membuat proses identifikasi dan penyimpanan jenazah menjadi semakin sulit.

Sejumlah korban banjir di berbagai distrik juga tidak memiliki tempat yang layak untuk melangsungkan ritual pemakaman. Banjir bandang menghanyutkan rumah serta fasilitas yang sebelumnya digunakan masyarakat.

Personel militer, kepolisian, dan tim lainnya masih melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan di kawasan terdampak. Namun, upaya tersebut terkendala jalan yang terputus serta gangguan pasokan listrik dan jaringan komunikasi.

Petugas juga terus mengirimkan bantuan kemanusiaan dan menjaga kebersihan di lokasi pengungsian untuk menekan risiko munculnya penyakit menular.

Banjir bandang melanda kawasan perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus 2026 setelah sebuah gletser di ketinggian 5.200 meter pecah dari Gunung Langtang Lirung di Nepal.

Pecahan gletser tersebut memicu longsoran es dan bebatuan yang membawa puing-puing serta menyapu lembah-lembah di kawasan perbatasan.

Banjir bandang dan longsor lumpur menghancurkan sejumlah wilayah di Distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Kavre, kemudian melanda Lembah Kathmandu. Bencana juga mengubur titik lintas batas Gyirong di bagian barat daya Kawasan Otonom Xizang atau Tibet.

Sumber: Anadolu

Leave a Reply