Waskitanusa.com, JAKARTA — Pasukan Amerika Serikat (AS) menghancurkan lima kapal pengangkut minyak mentah Iran setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dua kali menargetkan kapal perang Angkatan Laut AS dengan rudal balistik dalam dua hari terakhir.
Komando Pusat AS (CENTCOM), Selasa (8/9/2026), mengatakan kapal perang AS berhasil menghindari serangan tersebut dan tetap melakukan patroli di perairan kawasan.
“Kapal perang AS berhasil menghindari upaya serangan Iran tersebut dan terus berpatroli di perairan kawasan itu. Tidak ada personel Amerika yang terluka,” kata CENTCOM dalam sebuah pernyataan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya pada Selasa mengatakan Iran akan terus kehilangan kapal tanker setiap kali berupaya menyerang kapal Angkatan Laut AS.
“Iran terus berusaha menyerang kapal Angkatan Laut AS, dan setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukan hal itu, mereka akan kehilangan kapal tanker. Dan menurut saya, Anda akan melihat hal itu terjadi lagi hari ini,” kata Rubio kepada para wartawan saat kunjungannya ke Kolombia.
Sementara itu, kantor berita Iran Tasnim melaporkan sebuah kapal tanker terkena serangan di dekat area labuh jangkar Pulau Kharg. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dan seluruh awak kapal telah dievakuasi.
Secara terpisah, lembaga penyiaran negara Iran IRIB melaporkan dua kapal tanker minyak diserang di dekat pelabuhan Jask. Awak kedua kapal tersebut dievakuasi ke daratan menggunakan sekoci.
Korban dari Pihak AS
Jumlah total personel militer AS yang tewas atau luka-luka dalam konflik dengan Iran mencapai 838 orang berdasarkan analisis RIA Novosti terhadap data terbaru dari Departemen Perang AS pada Selasa (8/9/2026).
Menurut Pentagon, sebanyak 26 personel militer AS lainnya telah ditambahkan ke dalam daftar korban. Dengan demikian, jumlah personel yang luka-luka mencapai 820 orang, sedangkan jumlah korban tewas tetap 18 orang.
Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Serangan tersebut kemudian dibalas Iran dengan serangan terhadap AS dan Israel.
Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington menandatangani memorandum yang bertujuan menghentikan permusuhan. Namun, tak lama kemudian, kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.
Konflik tersebut hingga kini belum terselesaikan dan permusuhan masih sesekali kembali terjadi. Washington kemudian memilih meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran sebagai upaya mengakhiri konflik dengan memberikan tekanan finansial tambahan bagi Teheran.
Perkembangan terbaru itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS terkait Selat Hormuz. Kedua pihak sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang merencanakan kesepakatan untuk membuka kembali jalur air strategis tersebut sebagai langkah awal menuju kesepakatan damai yang lebih luas.

Leave a Reply