Kekeringan Melanda, Warga Tepus Endapkan Air Berjam-jam Sebelum Digunakan

Kekeringan Melanda, Warga Tepus Endapkan Air Berjam-jam Sebelum Digunakan
Salah seorang warga di Padukuhan Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Sunarjo saat mengambil air dari sumber di Kali Wonosari yang debitnya menyusut dan keruh akibat dampak musim kemarau, Kamis (23/7/2026). (Harian Jogja/David Kurniawan)

Waskitanusa.com, GUNUNGKIDUL — Musim kemarau membuat debit sumber air di Kali Wonosari mengering. Kondisi itu membuat warga di Padukuhan Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, mengalami krisis air bersih.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga di Padukuhan Duwet terpaksa mengendapkan air keruh selama beberapa jam sebelum bisa digunakan. Kondisi tersebut dirasakan hampir seluruh warga di empat rukun tetangga (RT) di Padukuhan Duwet.

Sumber air yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat masih dimanfaatkan meski alirannya tinggal menetes dan kualitas airnya tidak lagi sejernih saat musim hujan.

Seorang warga Padukuhan Duwet, Sunarjo, mengatakan dampak kemarau tahun ini mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat di wilayahnya. Sebagian besar warga kini kesulitan memperoleh air bersih yang dapat digunakan secara langsung.

“Di Padukuhan Duwet ada empat RT dan semuanya kesulitan air bersih,” kata Sunarjo saat ditemui di sumber Kali Wonosari di Padukuhan Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kamis (23/7/2026).

Dia bercerita sumber air di Kali Wonosari masih menjadi andalan warga meski debitnya terus menurun. Bak penampungan yang biasa digunakan untuk menampung air dari sumber tersebut kini sudah mengering.

Sementara itu, air yang masih mengalir dari bagian atas hanya berupa tetesan dengan kondisi yang tidak lagi jernih.

“Ada bak penampungannya, tapi sudah kering. Tetesan air dari atas juga sudah tidak jernih karena keruh karena penyusutan debit. Tapi, kami tetap mempergunakan,” katanya.

Air Diendapkan Sebelum Digunakan

Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, warga membawa galon bekas air minum kemasan ke lokasi sumber air. Air yang diambil kemudian tidak langsung digunakan karena harus diendapkan terlebih dahulu.

Menurut Sunarjo, proses pengendapan dilakukan agar kotoran yang terbawa dalam air dapat mengendap di dasar wadah sehingga air menjadi lebih jernih.

“Biar jernih maka harus diendapkan sekitar dua jam setelah pengambilan. Makanya, tak jarang banyak galon-galon berisi air ditinggal di lokasi sumber untuk pengendapan sebelum dibawa pulang ke rumah,” katanya.

Kondisi serupa juga disampaikan warga lainnya, Paiyem. Ia mengatakan wilayah Padukuhan Duwet memang memiliki keterbatasan sumber air sehingga hampir setiap musim kemarau menghadapi persoalan yang sama.

Dalam kondisi saat ini, warga tetap mengandalkan sumber di Kali Wonosari meski debit airnya jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.

“Sumber di Kali Wonosari menjadi andalan, meski debitnya sudah sangat kecil, tapi tetap dipergunakan,” katanya.

Sebagian warga memilih membeli pasokan air bersih yang diantar menggunakan mobil tangki. Menurut Paiyem, harga satu tangki air mencapai sekitar Rp200.000. Meski demikian, tidak semua warga memilih cara tersebut.

Ia mengaku masih memanfaatkan air dari Kali Wonosari karena menilai kualitas airnya berbeda dibandingkan air yang didatangkan menggunakan mobil tangki.

“Kalau membeli yang pakai tangki ada kapurnya. Tapi, memang pilihan, karena kalau mengambil dari Kali Wonosari tidak bisa langsung dipakai karena sudah keruh disebabkan debit yang mengecil akibat dampak dari kemarau mengecil,” katanya.

Danarta Kalurahan Purwodadi, Novianto, membenarkan bahwa krisis air bersih terjadi di banyak wilayah di kalurahannya.

Dari total 18 padukuhan yang ada di Kalurahan Purwodadi, sebagian besar warga mulai mengalami kesulitan memperoleh pasokan air bersih.

Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satunya melalui pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum Desa (Spamdes).

Namun, debit sumber air yang tersedia saat ini tidak lagi mencukupi untuk melayani seluruh kebutuhan warga. Selain itu, distribusi air dari PDAM juga belum menjangkau seluruh wilayah.

Menurut Novianto, layanan PDAM lebih banyak dinikmati warga yang tinggal di sekitar jalan utama dan distribusinya pun dilakukan secara bergantian dengan pelanggan lain.

“Sudah ada usaha membuat Spamdes, tapi debitnya sudah tidak mencukupi. Adapun aliran air dari PDAM juga hanya untuk warga di dekat jalan besar, itupun pelayanan juga harus bergantian dengan pelanggan lain,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, warga di Padukuhan Duwet masih mendatangi sumber air di Kali Wonosari setiap hari untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Galon-galon berisi air yang sedang diendapkan masih terlihat berada di sekitar lokasi sumber, menunggu air yang keruh berubah lebih jernih sebelum dibawa pulang dan digunakan di rumah masing-masing.

Berita ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul Air Tinggal Menetes, Warga Tepus Endapkan Air Keruh untuk Mandi

Leave a Reply