Waskitanusa.com, SEMARANG — Di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, limbah kotoran sapi tidak menjadi persoalan lingkungan. Sebaliknya, limbah tersebut justru menjadi sumber penghidupan bagi warga yang mengolahnya menjadi pupuk organik bernilai ekonomi.
Desa Manggihan dikenal sebagai salah satu sentra sapi perah di Jawa Tengah. Setiap hari, ratusan ternak menghasilkan limbah kotoran dalam jumlah besar. Sebagian dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas, sementara sisanya diolah menjadi pupuk kascing melalui bantuan cacing Lumbricus yang berperan sebagai pengurai alami.
Di sebuah shelter sederhana, Sriyanto menunjukkan media budidaya cacing Lumbricus yang menjadi kunci produksi pupuk kascing. Dari tempat itulah limbah ternak diubah menjadi produk yang dibutuhkan petani di berbagai daerah.
“Bahannya paling banyak dari kotoran sapi langsung. Ada juga dari ampas biogas yang lebih lembut, tapi hanya sebagian kecil,” ujarnya saat ditemui Espos, Minggu (21/6/2026).
Saat ini terdapat dua sentra pengolahan pupuk kascing di Desa Manggihan. Dalam sebulan, satu sentra mampu memproduksi sekitar 25 ton pupuk organik yang digunakan untuk berbagai komoditas pertanian, mulai dari kopi, alpukat, durian, hingga sayuran.
Temanggung dan Purworejo menjadi daerah yang rutin menerima pasokan pupuk kascing dari desa tersebut. Selain itu, pupuk juga dikirim ke wilayah Ngablak, Kabupaten Magelang, untuk kebutuhan pembibitan tanaman hias.
“Pupuk kascing rutin dikirim ke daerah Ngablak (Magelang) untuk pembibitan tanaman hias. Kami sistemnya mitra, bukan jual bebas karena izin edar belum ada,” ungkapnya.
Dari Limbah Ternak hingga Menyuburkan Sawit di Sumatra
Sebelum dikenal luas di pasar lokal Jawa Tengah, pupuk kascing produksi Desa Manggihan sempat mengandalkan pasar luar pulau. Sriyanto mengungkapkan bahwa sejak sekitar 2020, mereka rutin mengirim satu kontainer atau sekitar 20 ton pupuk kascing setiap bulan ke Sumatra untuk kebutuhan pembibitan kelapa sawit.
Seiring meningkatnya permintaan dari petani di Jawa Tengah, volume pengiriman ke Sumatra kemudian dikurangi agar kebutuhan pasar lokal tetap terpenuhi.
“Awal-awal pasar lokal belum banyak yang beli itu sekitar 2020, kami bisa kirim untuk sawit 20 ton sebulan. Sekarang masih, tapi kami kurangi menjadi 8 ton per bulan karena pasal lokal (Jateng) banyak yang menggunakan pupuk kascing,” ungkapnya.
Sriyanto mengaku mulai membudidayakan cacing Lumbricus sejak tahun 2000. Saat itu ia belum memahami potensi ekonomi yang tersimpan di balik budidaya tersebut. Bersama kelompoknya, ia kemudian aktif mengikuti berbagai pameran pertanian untuk memperdalam pengetahuan mengenai pupuk organik.
Dari hasil pengujian laboratorium, pupuk kascing diketahui mengandung berbagai unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman.
“Ternyata pupuk itu mengandung banyak unsur hara seperti NPK, bahan organik, serta hormon pertumbuhan seperti auksin, sitokinin dan giberelin untuk mendukung pertumbuhan akar, batang, dan pembuahan,” paparnya.
Proses produksinya pun relatif sederhana. Limbah biogas maupun kotoran sapi ditumpuk setinggi sekitar 30 sentimeter, kemudian diberi cacing Lumbricus. Dalam waktu sekitar 15 hari, bahan tersebut berubah menjadi pupuk organik siap pakai.
“Jadi prosesnya sangat mudah. Tidak seribet dengan pembuatan pupuk lain padahal dengan kandungan yang lebih bagus,” imbuhnya.
Di balik produksi pupuk kascing yang terus berkembang, manfaat ekonominya tidak hanya dirasakan oleh satu orang. Usaha tersebut dijalankan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang melibatkan warga dalam seluruh rantai produksi, mulai dari pengolahan hingga pemasaran.
Melalui sistem tersebut, peternak, kelompok usaha, dan petani pengguna pupuk sama-sama memperoleh manfaat. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, kegiatan ini juga menjadi sarana pemberdayaan generasi muda agar lebih dekat dengan dunia pertanian dan lingkungan.
“Kalau dirupiahkan dari jumlah produksi pupuk 20-25 ton setiap bulannya itu Rp25 juta. Tapi keuntungan produksi itu tidak buat saya pribadi, kami bagi ke kelompok-kelompok yang tergabung dalam KUB. Cara ini juga sarana pembinaan kepada pemuda agar mereka bisa bekerja sekaligus mencintai lingkungan hidup,” tandasnya.

Leave a Reply