Waskitanusa.com, SRAGEN — Terik matahari cukup menyengat di keramaian Jalan Raya Sukowati Sragen, Senin (20/4/2026). Di bawah rindangnya pohon kersen, seorang emak-emak duduk di kursi. Pakaiannya warna oranye dengan tali peluit di bahu kirinya.
Sosok ibu asal Desa Karangudi, Kecamatan Ngrampal, Sragen, bekerja sebagai juru parkir (jukir). Sejak 15 tahun lalu, perempuan bernama Siti Aminah, 54, itu menggeluti pekerjaan di jalanan.
Ibu dari dua anak setiap pagi hingga sore hari bekerja menjadi jukir untuk menghidupi kedua anaknya. Suaminya pun bekerja sebagai jukir di depan warung soto Gambiran, Sine, Sragen. Dari penghasilan jukir, ibu tersebut bisa menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang sarjana.
Anak pertamanya sekolah sampai ke jenjang SMK dan kini bekerja di Astra Jakarta. Anak yang kedua berhasil meraih gelar sarjana pendidikan, namun bukan menjadi guru tetapi bekerja di bidang jasa penjualan tiket pariwisata di Jakarta.
“Saya jadi jukir sejak anak bungsu saja masih SMA dan sekarang sudah berubah tangga. Sekarang saya punya dua orang cucu. Dari hasil juru parkir inilah, saya bisa menyekolahkan anak dan menghidupi keluarga,” ujar Siti saat berbincang dengan Espos, Senin (20/4/2026).
Lahan parkir yang dikelola Siti hanya sepanjang 50 meter, tepatnya di depan toko jamu Timur Pasar Kota Sragen. Penghasilannya tidak menentu. Rata-rata Siti menghasilkan pendapatan bersih Rp50.000-Rp60.000 per hari.
Setoran rata-rata, jelas dia, Rp25.000 per hari. Ketika pendapatan pas-pasan, Siti sampai berulang setoran, terutama saat Bulan Puasa yang jarang ada orang beli jamu. Penghasilan suaminya justru kalah karena hanya bisa jadi jukir sampai pukul 12.00 WIB, sedangkan Siti mulai pukul 09.00 WIB sampai 16.00 WIB.
Motivasi Diri
Meskipun usia sudah separuh abad, Siti masih energik dan semangat bekerja sebagai jukir. Panas dan hujan tak jadi rintangan bagi sosok “Kartini” Sragen ini.
Sama halnya dengan Anik, 33, asal Sragen Tengah, Sragen. Anik menjadi jukir di sebelah timur Toserba Mitra Sragen selama 12 tahun. Anik nekat jadi jukir karena penghasilan suaminya tak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Hasil jukirnya digunakan untuk kebutuhan harian, beli beras, uang saku anak, sampai biaya sekolah anak tunggalnya yang kini duduk di Kelas VIII SMP.
“Dulu awalnya membantu ibunya yang juga jukir di lokasi ini. Sekarang ibu sudah tua dan tidak berangkat karena sakit. Saya yang melanjutkan. Meskipun sebagai perempuan, saya tidak mau kalah dengan laki-laki. Saya bisa bekerja menghidupi keluarga sehingga tidak diremehkan laki-laki. Saya bisa bekerja sendiri tanpa tergantung kepada orang lain,” ujarnya penuh semangat.
Saat ramai, Anik bisa mendapat Rp100.000 tetapi saat sepi hanya Rp40.000. Untuk setoran harian, jelas dia, senilai Rp20.000 per hari. Ketika hujan pun, Anik tetap bekerja. Terkadang saat hujan-hujan, ada orang yang memberi uang parkir lebih.
“Suka dukanya tetap ada. Menghadapi banyak orang ya harus sabar dan tidak putus asa. Kadang ada yang mencemooh jukir yang sering kali bikin sakit hati. Tapi saya tetap berusaha memotivasi diri sendiri agar tetap semangat,” ujarnya.

Leave a Reply