Cerita Unik Gunung Ledek dan Sopir Truk Tebu di Kandangsapi Jenar Sragen

Cerita Unik Gunung Ledek dan Sopir Truk Tebu di Kandangsapi Jenar Sragen
Tim Yayasan Pastika Kabupaten Sragen saat menaiki Gunung Ledek di wilayah Dukuh Kalen, Desa Kandangsapi, Jenar, Sragen, Jumat (24/4/2026) sore. (Daerah/Tri Rahayu)

Waskitanusa.com, SRAGEN — Bukit menjulang dikelilingi tanaman tebu di Dukuh Kalen, Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar, Sragen, itu penuh batuan berukuran besar yang menancap di tanah. Dulu, bukit tersebut dikenal dengan nama Gunung Rangkep. Namun, sekarang bukit tersebut dikenal dengan sebutan Gunung Ledek. 

Di puncak bukit dengan ketinggian di atas 250 meter di atas permukaan laut itu, orang bisa melihat hamparan perkebunan tebu dengan lekuk-lekuk topografi pegunungan. Tanaman tebu yang menghijau terlihat seperti permadani yang membentang seluas puluhan hektare. Di puncak bukit terdapat batu bergambar sosok perempuan seperti sosok ledek.

Dengan adanya batu gambar itulah bukit tersebut dikenal dengan nama Gunung Ledek. Ledek merupakan seniman yang memiliki kemampuan menggabungkan seni tari dan sinden yang diiringi gamelan karawitan.

Di wilayah Jenar dan sekitarnya, ledek sering dijumpai saat pertunjukan tayuban. Di wilayah Kandangsapi, seni pertunjukan tayub masih membudaya, terutama pada acara hajatan mantu. Di wilayah Desa Kandangsapi hanya ada empat dukuh yang tidak lagi menggelar tayub, campursari, dan sejenisnya, salah satunya di dukuh seputaran Situ Singomodo.

Tim dari Yayasan Pastika Kabupaten Sragen didampingi Perangkat Desa Kandangsapi, Qomarudin, mencoba menelisik lokasi Gunung Ledek. Qomarudin pernah mengabadikan menggunakan drone tetapi sayangnya video yang pernah diunggah di Facebook sudah tidak ada.

Tim Yayasan Pastika Kabupaten Sragen menerobos rerimbunan tanaman tebu dengan melewati batuan besar-besar. Namun, saking lebatnya tanaman tebu, tim akhirnya tidak mampu sampai ke puncak Gunung Ledek. Untuk mencapai puncak dengan mudah harus menunggu musim panen tebu tiba.

Akhirnya Tim Pastika menemui ketua RT setempat untuk menggali cerita tentang Gunung Ledek. Ketua RT 022, Dukuh Kalen, Desa Kandangsapi, Jenar, Sragen, Purnadi, 67, bercerita tentang nama Gunung Ledek. Penamaan Gunung Ledek muncul sejak awal penanaman tebu pertama di wilayah Dukuh Kalen.

“Dulu, medannya terjal dan menanjak. Saat itu banyak truk pengangkut tebu tidak kuat menanjak. Kemudian ada sopir truk yang melempar uang koin ke gunung itu. Setelah melempar beberapa uang koin ternyata truknya bisa menanjak dengan lancar. Dulu uang koin hanya Rp10 dan Rp25,” ujar Purnadi.

Penunggu Bukit

Dia mengatakan gunung itu dipercaya ada penunggunya yang disebut lelembut. Dia mengungkapkan pada suatu hari ada warga perempuan yang kerasukan lelembut. Saat kerasukan itu, ujar dia, warga tersebut terus nembang atau yang warga oleh warga setempat disebut nggending. 

“Karena sering nggending maka penunggu di gunung itu disebut seperti ledek. Kemudian pada tahun 1989-1990, ada warga yang menggambar di batuan di puncak bukit. Gambarannya berupa sosok perempuan seperti ledek. Sejak ada gambar itu kemudian gunung tersebut disebut sebagai gunung ledek,” jelas Purnadi.

Dia mengatakan lokasi Gunung Ledek pada kala itu masih angker. Ketika lewat malam hari, jelas dia, sering kali bulu kuduknya berdiri atau merinding. Dia pernah dijumpai sebuah sinar warna kehijauan di batuan Gunung Ledek yang membuatnya takut dan sesegera mungkin meningkatkan lokasi itu. “Tetapi sekarang tidak seangker dulu. Malam hari lewat yang biasa saja,” jelas dia.

Kepala Desa Kandangsapi, Jenar, Sragen, Pandu, mengaku pernah ikut membuka kali pertama lahan tebu di wilayah Dukuh Kalen. Dia menyampaikan gambar ledek di gunung itu yang membuat anak-anak muda pada kala itu yang iseng dan ternyata sampai sekarang masih ada.

“Di Dukuh Kalen itu memang masih kental dengan ledek. Saat hajatan mantu sering menanggap ledek. Biasanya menanggap ledek dengan mendatangkan dari Grobogan. Kalau di Kandangsapi ini hanya ada empat desa yang tidak lagi menanggap ledek, salah satunya di sekitar Situs Eyang Singomodo,” jelas dia.

Modin Kandangsapi, Qomarudin, menyebut keempat dukuh yang tidak lagi menanggap ledek terdiri atas Dukuh Tegalrejo, Kedungbulus, Tawang, dan Singomodo. Hilangnya tradisi ledek di empat dukuh tersebut seiring dengan perkembangan dakwah Islam.

Leave a Reply